Amin Nur Hasan... yaa.. orang tuaku menyebutku demikian. Entah apa yang mereka di harapkan de seorang Amin Nur Hasan ??.. Lahir sebagai anak ke 2 di sebuah keluarga sederhana. Kata orang anak pertama akan lebih bisa mandiri karena dia lahir di saat kedua orang tuanya dalam masa penuh perjuangan. Perjuangan bukan selalu tentang ekonomi,perjuangan membangun pondasi rumah tangga.Dimana dalam 5 tahun awal adalah fase paling berat. Ya..kakak saya emang orang yang kuat dan mandiri. Dari sejak SD biarpun mungil tapi selalu bisa di andalkan. Dia orang yang lantang,pandai bercakap dan sangat baik dalam berinteraksi. Walaupun dia perempuan dia bahkan jadi pemimpin upacara. Banyak sekali prestasinya, hampir setiap lomba yang diikuti pasti dapet gelar juara, baik 1,2 maupun 3. Sekarang hampir genap Usianya 29 thn seminggu lagi. Dia anak pertama yang pastinya membanggakan.
Lain dia lain saya,kami sangat berbeda,dia mewarisi kehebatan ibunya.Ibuku seorang yang aktiv dan pandai berorganisasi. Alumni sebuah pondok pesantren di daerahku. Bahkan menjadi salah 1 santri kesayangan pengurus pondok tersebut.Dulu aku sering di ajak bersilaturahim ke Pondok pesantren itu.Setiap lebaran, aku benar-benar kagum. Hingga setelah lulus SD aku minta masuk pondok pesantren sambil sekolah di MTS. Ayahku yang selalu meracuni kupingku dari kecil dengan lagu-lagu karya Roma Irama, membuat Amin kecil ingin sekali seperti Bung Roma. Seorang musisi dan seorang Da'i. Tentu langkahku harus ku mulai dari pondok pesantren, namun kasih sayang orang tuaku yang begitu besar,membuat mereka tak tega melepasku kesana.Dan aku tak pernah punya keberanian untuk melawan orang tua.Aku tidak seperti kakaku yang penuh prestasi itu,aku berbeda, aku dibekali iq yang lebih tinggi.Aku tidak dibekali kecakapan dan keberanian seperti yang kakaku dapat.Bahkan aku tak pernah juara di setiap lomba yang kuikuti. Namun aku bisa juara di kelas.Walau cuma 2 kali tapi selebihnya antara ranking 2,3.Aku hanya menang 2 kali dari Kakaku.
Sekarang kami telah dewasa, kami telah mempunyai kehidupan kami sendiri dengan pasangan dan anak kami masing-masing. Sekali lagi aku kalah, walau sederhana kakaku sudah tenang sehari-hari masih bisa bertemu ayah dan ibu. Sedangkan aku masih berjuang di tanah rantau. Kali ini aku tidak ada niat untuk menjadi seperti dia,aku punya kehidpuan dan cara sendiri. Aku tahu tuhan memberi kami perbedan, kelebihan dan kelemahan yang berbeda. Maka aku tidak mungkin mencoba lagi meniru langkah dia.Aku seorang lelaki tentu harus lebih kuar dan mandiri,walau bukan rumusnya bagi anak ke dua. Tanah rantau begitu banyak merubah dan mengajariku,membentuk diri ini. Tapi belum bsa mengembalikan diriku menjadi manusia yang seutuhnya. Aku merasa menjadi manusia yang seutuhnya ketika ditanah rantau sebagai seorang pelajar. Aku berlajar benar bagaimana, mandiri,hidup bersama orang yang selama ini tak pernah bertemu sebelumnya.Melihat dan merasakan peristiwa-peristiwa diluar dugaan akal sehat. Itu semua rahasia dan kebesaran Tuhan..
Zaman mankin maju,makin berat. Namun kebesaran dan kekuasaan Tuhan selalu lebih. Kegagalan demi kegagalan,keluar masuk jurang berkali kali kulalui.Entah harus berapa kali lagi aku masuk jurang, kadang aku berpikir aku tak cocok di tempat ini, aku ingin pulang,namun ada saja halangannya.Mungkin tuhan sedang menunjukan kepadaku,bahwa bekalku sangatlah minim,ujianku masih belum selesai disini.Entahlah nyambung ga nyambung... bersambung
Lain dia lain saya,kami sangat berbeda,dia mewarisi kehebatan ibunya.Ibuku seorang yang aktiv dan pandai berorganisasi. Alumni sebuah pondok pesantren di daerahku. Bahkan menjadi salah 1 santri kesayangan pengurus pondok tersebut.Dulu aku sering di ajak bersilaturahim ke Pondok pesantren itu.Setiap lebaran, aku benar-benar kagum. Hingga setelah lulus SD aku minta masuk pondok pesantren sambil sekolah di MTS. Ayahku yang selalu meracuni kupingku dari kecil dengan lagu-lagu karya Roma Irama, membuat Amin kecil ingin sekali seperti Bung Roma. Seorang musisi dan seorang Da'i. Tentu langkahku harus ku mulai dari pondok pesantren, namun kasih sayang orang tuaku yang begitu besar,membuat mereka tak tega melepasku kesana.Dan aku tak pernah punya keberanian untuk melawan orang tua.Aku tidak seperti kakaku yang penuh prestasi itu,aku berbeda, aku dibekali iq yang lebih tinggi.Aku tidak dibekali kecakapan dan keberanian seperti yang kakaku dapat.Bahkan aku tak pernah juara di setiap lomba yang kuikuti. Namun aku bisa juara di kelas.Walau cuma 2 kali tapi selebihnya antara ranking 2,3.Aku hanya menang 2 kali dari Kakaku.
Sekarang kami telah dewasa, kami telah mempunyai kehidupan kami sendiri dengan pasangan dan anak kami masing-masing. Sekali lagi aku kalah, walau sederhana kakaku sudah tenang sehari-hari masih bisa bertemu ayah dan ibu. Sedangkan aku masih berjuang di tanah rantau. Kali ini aku tidak ada niat untuk menjadi seperti dia,aku punya kehidpuan dan cara sendiri. Aku tahu tuhan memberi kami perbedan, kelebihan dan kelemahan yang berbeda. Maka aku tidak mungkin mencoba lagi meniru langkah dia.Aku seorang lelaki tentu harus lebih kuar dan mandiri,walau bukan rumusnya bagi anak ke dua. Tanah rantau begitu banyak merubah dan mengajariku,membentuk diri ini. Tapi belum bsa mengembalikan diriku menjadi manusia yang seutuhnya. Aku merasa menjadi manusia yang seutuhnya ketika ditanah rantau sebagai seorang pelajar. Aku berlajar benar bagaimana, mandiri,hidup bersama orang yang selama ini tak pernah bertemu sebelumnya.Melihat dan merasakan peristiwa-peristiwa diluar dugaan akal sehat. Itu semua rahasia dan kebesaran Tuhan..
Zaman mankin maju,makin berat. Namun kebesaran dan kekuasaan Tuhan selalu lebih. Kegagalan demi kegagalan,keluar masuk jurang berkali kali kulalui.Entah harus berapa kali lagi aku masuk jurang, kadang aku berpikir aku tak cocok di tempat ini, aku ingin pulang,namun ada saja halangannya.Mungkin tuhan sedang menunjukan kepadaku,bahwa bekalku sangatlah minim,ujianku masih belum selesai disini.Entahlah nyambung ga nyambung... bersambung

Tidak ada komentar:
Posting Komentar